Selasa, 16 Oktober 2012

Penyatuan Zona Waktu Indonesia Pada 28 Oktober 2012 DITUNDA

Wacana penyatuan zona waktu di Indonesia menjadi GMT+8 atau menjadi hanya Waktu Indonesia Bagian Tengah (WITA) memiliki banyak keuntungan. Dampak penyatuan waktu menguntungkan dari aspek ekonomi, sistem pendidikan dan kesempatan kerja.

Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) bahkan mengusulkan 28 Oktober 2012 menjadi dimulainya penyaturan waktu tersebut. Zona waktu adalah berdimensi kepada persaingan strategi global. Zona waktu itu harus dimulai 28 Oktober 2012, kalau tidak Indonesia akan kalah.

Kenapa 28 Oktober menjadi pilihan KP3EI, karena berbarengan dengan hari bersejarah yakni Hari Sumpah Pemuda. Alasan kedua, pada tanggal 28 Oktober 2012 tepat di hari Minggu dan dianggap memiliki beban lebih kecil dibandingkan hari-hari lain.

Tapi sayang, pemerintah sendiri akhirnya batal memberlakukan penyatuan zona waktu pada 28 Oktober mendatang. Pemerintah mengaku sulit menerapkan penyatuan zona waktu tanpa persiapan yang matang. Menurut Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, untuk menyatukan zona waktu di Indonesia bukan hal yang mudah. Pasalnya, banyak langkah sosial yang harus dilakukan.

Penetapan penyatuan zona, tambah Hatta, tidak dapat dilaksanakan pada 28 Oktober seperti yang telah ditetapkan pemerintah sebelumnya. Selain itu, Hatta pun mengaku masih ada beberapa pihak yang menolak rencana tersebut.

Padahal, kajian penyatuan Zona Satu Waktu GMT+8 NKRI sudah dilakukan oleh Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) sejak 2004-2008 lalu dengan tema penyesuaian wilayah waktu kaitannya dengan penghematan energi (Listrik). Hal ini berdasarkan isu hangat yang berkembang di masyarakat soal hemat energi, khususnya energi listrik yang kemudian menjadi Instruksi Presiden. Pertimbangan penyatuan zona waktu didasarkan pada pertimbangan kondisi geografis, politik, sosial budaya, ekonomi, hankam dan agama. Selain itu juga keuntungan penyatuan zona waktu akan berdampak pada penghematan energi.

Penyatuan waktu antara Indonesia barat, tengah, dan timur diyakini akan dapat mengangkat 20% PDB (Produk Domestic Bruto) Indonesia. Sebab ada angkatan kerja berjumlah 190 juta orang yang akan melakukan pekerjaannya secara bersama-sama. Indonesia sering kalah dengan negara lain dalam hal transaksi bisnis. Seperti jadwal terbang Garuda yang satu jam lebih lambat dari maskapai lain, karena perbedaan waktu tersebut. Bursa Efek Indonesia (BEI) juga kalah satu jam dengan bursa efek di Hong Kong, dan Shanghai China.

Sementara transsaksi di Bank Indonesia (BI), para pelaku pasar uang di Papua dan Maluku tidak memiliki waktu yang cukup untuk saling bertransaksi dengan pelaku pasar di daerah Indonesia Barat. Karena pusat bursa efek dan perbankan berada di wilayah Barat, pelaku bisnis Papua dan Maluku harus merelakan waktunya terbuang dua jam secara percuma menunggu lapak transaksi.

Sumber : Dirangkum dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...