“Ki Hadjar Dewantara
adalah pendorong dan pemimpin bangsa Indonesia yang oleh Tuhan diberi
karunia untuk memimpin bangsanya. Kalau dulu tak ada seorang yang
bernama Suwardi Suryaningrat yang kemudian menjadi Ki Hadjar Dewantara,
keadaan pergerakan kebangsaan Indonesia tak akan cemerlang seperti yang
kita alami” (Bung Karno)
Bambang Sokawati Dewantara dalam bukunya Ki Hadjar Dewantara Ayahku
(1989) mengutip beberapa kata sanjungan Bung Karno, Presiden Republik
Indonesia kala itu, kepada Ki Hadjar Dewantara. Salah satunya adalah
kutipan ‘penggetar sukma’ dari Bung Karno di atas.
Semangat juang Ki Hadjar Dewantara didalam
mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia memang patut diacungi jempol.
Tanpanya, mungkin bangsa Indonesia tidak bisa mencapai keadaan seperti
saat ini.
Salah satu peninggalan Ki Hadjar Dewantara
adalah Museum Dewantara Kirti Griya. Terletak di komplek perguruan Taman
Siswa, Jalan Tamansiswa 31 Yogyakarta, museum ini luput dari perhatian
masyarakat.
Padahal di tempat inilah pergerakan
kebangsaan Indonesia lahir. Kesadaran masyarakat Indonesia, khususnya
generasi muda untuk berkunjung ke museum masih rendah. Hal tersebut
terlihat dari minimnya jumlah pengunjung yang datang ke museum,
khususnya Museum Dewantara Kirti Griya.
Sri Muryani, 48, Ketua Urusan Museum
Dewantara Kirti Griya mengatakan rata-rata per bulan jumlah kunjungan
mencapai 100 orang. “Mayoritas pengunjung adalah pelajar ataupun
mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Biasanya museum ramai
dikunjungi pada musim liburan,” tutur Sri, Kamis (8/11) siang.
Total kunjungan wisatawan paling tinggi
adalah pada tahun 2010, yakni mencapai 23.930 orang. Dari 23.930
tersebut, mayoritas wisatawan lokal yang paling banyak mengunjungi
museum, yakni mencapai 23.903 orang, sisanya wisatawan mancanegara 27
orang.
Belajar banyak hal dari museum
Sri menambahkan, museum mempunyai nilai
penting di dalam membangun karakter bangsa Indonesia. Museum yang
merupakan tempat penyimpanan benda-benda bersejarah mempunyai nilai
kultural yang tinggi dan menyimpan fakta sejarah di mana mempunyai arti
penting bagi generasi selanjutnya.
Oleh karena itu, lanjut Sri, ide Ki Hadjar
Dewantara mendirikan museum Dewantara Kirti Griya bukanlan berlebihan
atau bertujuan untuk mengkultuskan diri. Dengan adanya museum, generasi
muda akan dapat mempelajari, memahami, kemudian mewujudkan nilai-nilai
yang terkandung ke dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Museum Dewantara Kirti Griya merupakan
museum memorial. Dikatakan memorial karena museum ini dulunya adalah
tempat atau rumah bekas kediaman seorang tokoh penting yang patut
diabadikan dalam sejarah bangsa. Di sini disajikan gambaran riwayat
hidup dan sejarah perjuangan Ki Hadjar Dewantara sebagai Pahlawan
Nasional dan Bapak Pendidikan Nasional di Indonesia,” tutur Sri yang
sudah bekerja lebih dari 24 tahun.
Selain itu, museum khusus memorial juga
berfungsi mengumpulkan, menyimpan, merawat, meneliti dan
mengkomunikasikan benda-benda bukti material perjuangan hidup Ki Hadjar
Dewantara dan Tamansiswa pada khususnya, serta perjalanan bangsa
Indonesia pada umumnya.
Banyak hal yang bisa lihat dan rasakan di
Museum Dewantara Kirti Griya. Selain bangunan museum yang merupakan
rumah bekas tempat tinggal Ki Hadjar Dewantara, terdapat pula berbagai
macam koleksi realia, atau dengan kata lain koleksi asli milik Ki Hadjar
Dewantara.
Seperti misalnya naskah, pakaian, perabotan,
perlengkapan kerja, film dokumenter, dan surat-surat. Sedangkan koleksi
lainnya ada berupa foto, lukisan, barang pecah belah, surat kabar,
majalah dan berbagai macam jenis buku yang kebanyakan berbahasa Belanda.
Ciptakan Sistem Pendidikan Cerdas “Tut Wuri Handayani”
Ki Hadjar Dewantara merupakan putra Pangeran
Sasraningrat dan cucu Pakualaman ke-3. Ia lahir pada tanggal 2 Mei 1889
di Yogyakarta. Sri menuturkan, Ki Hadjar Dewantara dulu juga sempat
menekuni duani kewartawanan, seperti menjadi pembantu surat kabar Sedjatama, Midden Java, De Express dan Oetoesan Hindia.
Ki Hadjar Dewantara juga sempat ikut mendirikan partai politik Indische Partij
(Partai Hindia) bersama rekannya, E.E. Douwes Dekker. Keikutsertaannya
dalam partai itu ternyata mengantarkannya ke pembuangan. Ki Hadjar
Dewantara sengaja memilih di buang di Belanda agar dapat mempelajari
situasi pendidikan di negeri itu.
Setelah berhasil mempelajari pendidikan di
negeri Belanda, kemudian Ki Hadjar Dewantara balik ke Indonesia untuk
menerapkan ilmu yang ia peroleh. Ia menyadari bahwa pendidikan Belanda
yang dinilai sebagai pendidikan ‘kolonial’ di Indonesia itu sangat
sesuai untuk anak-anak Belanda.
Oleh karena itu, ia berkesimpulan bahwa
pendidikan yang sesuai untuk Indonesia adalah pendidikan nasional, bukan
kolonial. Pendidikan yang bercorak barat harus diselaraskan dengan
keadaan alam dan budaya Indonesia.
Y.B. Sudarmanto dalam bukunya Jejak-Jejak Pahlawan (1996) mengatakan menurut Ki Hadjar Dewantara prinsip yang mendasari pendidikan adalah sistem among. Seorang pendidik, entah itu orang tua atau guru, dan pemimpin tidak boleh bersikap tut wuri (permisif, keserbabolehan) atau handayani (otoriter), tetapi harus bersikap tut wuri handayani
(otoritarian, di belakang memberi dorongan). Murid dibina agar mampu
‘berjalan sendiri’, menjadi manusia merdeka yang dapat mengambil
keputusan bebas (value judgement).
Dari pemaparan di atas, secara garis besar,
Ki Hadjar Dewantara ingin unsur-unsur “Barat”itu harus diselaraskan
dengan nilai, adat-istiadat, dan kehidupan bangsa. Prinsip harmoni
merupakan prinsip dasar untuk ‘mencerna’ pengaruh dari luar.
Keinginan Ki Hadjar Dewantara tersebut
terwujud dalam museum yang ia bangun bersama kawan-kawannya. Misalnya
saja di bagian ruang keluarga. Dulu, di ruang tersebut digunakan
masyarakat untuk belajar bersama, latihan menari, pencak silat dan lain
sebagainya. Hingga kini, ruang keluarga dan beberapa ruang di luar
museum juga digunakan untuk belajar oleh beberapa mahasiswa dan peneliti
dari berbagai daerah.
Selain itu, untuk latihan menari, pencak
silat dan lain sebagainya, kini menggunakan pendopo yang ada di dekat
museum. Selain itu, museum yang berada di bawah naungan Yayaysan
Persatuan Perguruan Taman Siswa ini juga terdapat pendidikan TK hingga
perguruan tinggi.
Sri berharap, kedepannya Museum Dewantara
Kirti Griya bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas. Sri mengaku, jika
masyarakat ataupun generasi muda tahu pentingnya peranan museum dalam
mencerdaskan bangsa, maka mereka akan menemukan banyak ‘mutiara’
terpendam di museum, yang tentu ‘mutiara’ tersebut akan berguna bagi
masa depan generasi muda kelak.
“Ayo beramai-ramai ke museum Dewantara Kirti Griya sekarang!”
“Temukan ‘mutiara’mu di sana!”
Titah Pratyaksa/yasirmaster.blogspot
Tidak ada komentar:
Posting Komentar